Teknik Minta Maaf

Posted: 12 September 2011 in BACA - BACA ARTIKEL AZ-ZAHRA CIREBON

 

Kita sering meminta maaf pada momen-momen tertentu seperti pada Bulan Ramadhan, Idul Fitri dan momen lainnya. Sebab, pada saat itu semua orang  mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Kalau di lain hari rasanya gengsi, malu, susah ngomong, jangan-jangan tak dimaafkan dan berbagai perasaan bercampur aduk. Meminta maaf memang pekerjaan yang berat.

Minta maaf pada momen tertentu jelas kurang benar, dan akan merugikan diri sendiri:

1) belum tentu umur kita sampai pada momen tersebut. Jika ini terjadi maka kita kehilangan kesempatan untuk meminta maaf;

2) Ada kecenderungan orang memberi maaf pada saat momen tersebut hanya sebagai kebiasaan sehingga belum tentu berasal dari hati yang paling dalam;

3) Ada kecenderungan seolah-olah jika meminta maaf pada momen tersebut semua kesalahan pasti dimaafkan tanpa menyebutkan apa kesalahan kita kepada mereka. Padahal, ketika kita minta maaf harus jelas dalam hal apa kita meminta maaf. Selain itu, sepertinya permintaan maaf kita pada momen tersebut hanya basa-basi saja dan tanpa beban sama sekali. Bahkan mungkin kita tidak sadar apa kesalahan kita, sehingga  ringan-ringan saja. Bagaimana mungkin kita menganggap ringan masalah maaf-memaafkan ini?

Selain itu, ada anggapan bahwa meminta maaf sudah cukup, padahal itu belum cukup. Ada tahapan yang harus dilalui oleh mereka yang meminta maaf, yaitu:

1) berniat dengan setulus hati minta maaf;

2) sampaikan ucapan permintaan maaf dengan  penuh rasa menyesal. Tentu saja dalam hal ini kita harus benar-benar tahu apa kesalahan kita. Kita juga harus menyebutkan apa kesalahan kita kepada pihak lain, sehingga pihak lain memahami perihal tersebut;

3) permintaan maaf tersebut diterima oleh pihak lain;

4) Jika ada hal yang berkaitan dengan sesuatu yang harus dikembalikan maka sesuatu itu harus dikembalikan kepada yang berhak. Pemberian maaf tidak berarti  kita tidak perlu mengembalikan sesuatu yang pernah kita ambil;

5) menerima dengan ikhlas resiko yang harus ditanggung akibat perbuatannya tersebut. Jadi permintaan maaf tidak secara otomatis menghilangkan hukuman. Sebab, hukuman itu berbeda dimensi dengan masalah maaf-memaafkan;

6) berusaha dengan sungguh-sungguh tidak melakukan perbuatan tercela tersebut di masa yang akan datang.

Jadi, minta maaf tidaklah sesederhana seperti anggapan sebagian orang, ia merupakan proses yang kompleks dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan bersabar atas resiko yang harus ditanggungnya. Setelah itu tidak melakukan perbuatan itu lagi dan berusaha melakukan perbaikkan. Itulah permintaan maaf yang benar. Jika kita minta maaf tapi tidak mengembalikan sesuatu yang pernah kita ambil, maka itu adalah permintaan maaf yang semu, pada hakikatnya kita belum meminta maaf. Misalnya, kita korupsi, maka sebagai kesungguhan permintaan maaf ,kita harus mengembalikan apa yang dikorupsi. Selain itu, kita siap menjalani proses hukum yang berlaku dengan sabar serta melakukan perbaikkan. Inilah minta maaf yang sejati.

Minta maaf seharusnya dilakukan segera setelah kita menyadari kesalahan kita. Tidak perlu ditunda-tunda. Sebab kita tidak tahu kapan kita dijemput oleh malaikat. Apapun resiko yang harus ditanggung, dengan penuh kesadaran datang meminta maaf.

Banyak hikmah yang dikandung dalam hal ini (segera meminta maaf), yaitu:

1) melegakan hati kedua belah pihak

2) menghilangkan  salah tafsir;

3) tidak terputusnya tali silaturahmi;

4) menghilangkan dendam yang kronis;

5) mempererat persaudaraan;

6) menghindari miskomunikasi,

7) terhindar dari fitnah;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s